Pembebasan Lahan PLTU Batang Masih Tinggal 7 Ha
Kabar Jateng
14.09
0
Semarang- Proses
pembebasan lahan pada proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga
uap di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tinggal tujuh hektare dari luas
lahan sebelumnya yang belum dibebaskan yakni 13 hektare milik warga
setempat.
"Pembebasan lahan
PLTU Batang mengalami kemajuan yang signifikan dan sekarang
menyisakan tujuh hektare lahan yang belum dibebaskan," kata
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jateng Teguh Dwi Paryono
di Semarang, Senin.
Terkait dengan sisa
pembebasan lahan tersebut, Teguh mengaku optimistis proyek
pembangunan PLTU Batang dapat tetap berjalan.
"Mudah-mudahan lahan
yang terkena proyek pembangunan proyek PLTU Batang dapat dibebaskan
pada akhir tahun ini," ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa
Perusahaan Listrik Negara hingga saat ini juga tetap berupaya
membangun PLTU sebagai antisipasi jika pembangunan PLTU Batang gagal
dilaksanakan.
"Saya belum
mengetahui lokasi pembangunan dan tahapannya terkait PLTU tersebut,
namun yang jelas menggunakan dana dari PLN sendiri," katanya.
Gubernur Jateng Ganjar
Pranowo mengaku masih mengkaji penawaran Bupati Kendal Widyah Kandi
Susanti terkait dengan lokasi pembangunan PLTU di wilayah Kabupaten
Kendal jika pembangunan PLTU Batang gagal direalisasikan.
Ia menjelaskan bahwa
selain masih perlu kajian dan rekayasa teknologi karena ada sisi
positif serta negatifnya, penawaran Bupati Kendal atas lokasi
pengganti pembangunan PLTU itu juga perlu persetujuan dari investor.
"Apakah investornya
mau atau tidak, saya tidak tahu tapi rencananya pembangunan PLTU akan
dilakukan di daerah pantai utara Jateng dan dekat dengan pelabuhan
jika batal di Kabupaten Batang," ujar politisi PDI Perjuangan
itu.
Ganjar tidak bersedia
menyebutkan lokasi baru pembangunan PLTU terkait dengan kemungkinan
batalnya rencana di Kabupaten Batang karena khawatir akan banyak
makelar tanah yang memanfaatkan kesempatan.
"Saya tetap berharap
pembangunan PLTU Batang tetap dapat dilaksanakan meskipun saat ini
masih terkendala pembebasan lahan," katanya.
Sebelumnya, Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan PT PLN
siap membangun PLTU baru dengan kapasitas yang sama sebagai pengganti
PLTU Batang yang sulit terealisasi, karena terhambat masalah
pengadaan lahan.
Chairul memastikan
pembangunan PLTU baru ini sebagai antisipasi, apabila proyek PLTU di
Kabupaten Batang, Jawa Tengah, berkapasitas 2x1000 MW tertunda
implementasinya karena masalah lahan tersebut.
Namun, pemerintah masih
berupaya untuk menyelesaikan segala masalah terkait PLTU Batang
menggunakan UU nomor 2 Tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi
pembangunan untuk kepentingan umum, mulai tahun depan.
"Kami ingin
melaksanakan pembangunan PLTU itu dengan UU lahan, karena sudah tidak
mungkin dilakukan langkah di luar itu. Tapi proses dengan peraturan
UU lahan, membutuhkan waktu setahun," katanya.
Chairul tidak
mengungkapkan di wilayah mana, pembangunan PLTU tersebut akan
dilaksanakan agar harga tanah tidak menjadi mahal, meskipun dapat
dipastikan pembangkit listrik baru juga akan dibangun di wilayah Jawa
Tengah.
Proyek pembangkit listrik
senilai empat miliar dolar AS, ini dibiayai oleh investor asal
Jepang, yaitu Sumimoto Mitsui Banking Cooperation dan Japan Bank for
International Cooperation (JICA).
PLN memperkirakan apabila
proyek infrastruktur pembangkit listrik tenaga uap ini tidak segera
terwujud, maka wilayah Jawa, Bali dan sekitarnya akan mengalami
kelangkaan tenaga listrik pada 2017-2018. **ant

Tidak ada komentar